Rasa Yang Karam


Pagi itu, alarm telpon berbunyi sebagai petugas yang membangunkan salah satu anak manusia yang masih terlena dengan belaian selimut lusuhnya. Dan seperti biasa setelah subuh kegiatan yang paling menyenangkan bersih bersih diri. bahkan guyuran air dingin tak menyurutkan semangat untuk membersihkan badan yang telah berkeringat dari tubuh yang juga telah melakukan pembersihan diri di waktu malam.

meski ku mengakui, kadang juga aku merasa enggan bersahabat dengan air di pagi buta, dan lebih memilih berjalan santai menikmati berteman dengan pagi yang selalu diam dan memberiku kesempatan untuk menggerutu sendiri meski dalam pikiran.

Ingatanku akhirnya menuntunku pada fenomena bertemu dengan seseorang yang pada akhirnya membuat hati ini sempat terjatuh padanya.

Entah apa yang harus ku ucap, senang mengingatmu atau kadang sangat benci mengenangmu. ya..... sebuah rasa yang tak seharusnya aku ungkap pada seseorang yang tak pernah kenal dengan rasa memiliki. tapi menyesal hanya membuat rasa makin tak karuan, tapi jujur hati tak bisa disebunyikan, karena aku jatuh hati  padamu, namun perasaan benci tak jua bisa kuhapus karena kecewa dan rasa sakit yang terukir.

Jika memang engkau punya bakat menyakiti, kembangkan saja uantuk suksesmu kelak menyakiti siapapun yang kau mau. Carilah terus para hati rapuh yang siap menerima kehancuran, berikanlah rasa pedih pada hati yang telah terluka, buatkan sayatan lagi yang lebih dalam, buat luka yang lebih sakit, ciptakan korban-korban baru yang akan menampung ludah busuk dari rayuan manismu hingga tak sanggup lagi mulut mencaci benci pada mu..

bersambung